PERILAKU PEMUSTAKA (MAHASISWA) DALAM TEMU BALIK INFORMASI DI UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

Print
Category: Artikel Kepustakawanan
Published Date Written by Suwarno

PERILAKU PEMUSTAKA (MAHASISWA) DALAM TEMU BALIK INFORMASI DI UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

Oleh : Arko Pambudi, S.Hum

 

I.   PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Melimpahnya informasi di perpustakaan menuntut suatu pola baru untuk mengelola perpustakaan. Pola tradisional atau konvensional untuk mengelola perpustakaan semakin hari dirasakan tidak bisa lagi menangani ledakan informasi. Pola tradisional mengelola perpustakaan, secara berangsur-angsur harus dialihkan kepada pola pengelolaan yang berorientasi kepada penerapan teknologi informasi.

Teknologi Informasi adalah teknologi informasi yang tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi (Martin : 1999). Dengan dimanfaatkannya teknologi informasi yaitu komputer di perpustakaan, membuat perpustakaan berubah dari sistem tradisional ke modern. Menurut Sulisty-Basuki (2002), Perpustakaan tradisional dalam melakukan temu balik informasi masih menggunakan katalog manual, sedangkan perpustakaan modern temu balik informasi telah menggunakan komputer melalui pangkalan data. Temu balik informasi menggunkan komputer dikenal dengan OPAC.

Sehubungan dengan hal tersebut agar perpustakaan tidak ditinggalkan oleh pengguna, perpustakaan harus mempersiapkan dengan baik penerapan teknologi informasi . Penerapan teknologi informasi terutama komputer, dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan dan penyelenggaraan layanan perpustakaan, misalnyatemu balik informasi, pengadaan, pengolahan, layanansirkulasi, penelusuran dan lain sebagainya.

 Perpustakaan adalah salah satu lembaga yang berfungsi sebagai saluran penyebaran informasi, dan indikator keberhasilan perpustakaan adalah pengguna perpustakaan, salah satu kelompok pengguna perpustakaan di UPT Perpustakaan

Politeknik Negeri Semarang adalah mahasiswa. Para mahasiswa memerlukan informasi yang mereka dapatkan dari koleksi yang ada di perpustakaan untuk mengerjakan tugas, menambah pengetahuan, serta wawasan.

Perilaku pemustaka dalam melakukan temu balik informasi bermacam-macam, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranyayaitu  latar belakang, pengalaman, serta kebutuhan dari pemustaka. Hal inilah yang menyebabkan perilaku pengguna cukup beragam dalam memenuhi kebutuhan informasinya di perpustakaan.

UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang sebagai salah satu perpustakaan perguruan tinggi, telah menerapkan teknologi informasiuntukmencukupi kebutuhanpara penggunanya namun pada kenyataannya tidak semua pengguna dapat memanfatkan aplikasi teknologi informasi tersebut secara maksimal. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, bisa disebabkan oleh fasilitas yang ada di perpustakaan yang kurang memadai, misalnya jumlah komputer untuk sarana temu balik informasitidak sebanding dengan jumlah pemustaka yang berkunjung di perpustakaan, kurangnya pendidikan pemakai, masih ada pemustaka yang gagap teknologi,  sehingga menyebabkan perilakupemustaka jarang menggunakan komputer untuk melakukan temu balik informasi.

Dari uraian tersebut, penulis tertarik untuk mengetahuibagaimana perilaku pemustaka ketika melakukan temu balik informasi, oleh karena itu penulis mengambil judul “Perilaku Pemustaka (Mahasiswa)dalam Temu Balik Informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang”.

1.2    Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

“ Bagaimanakahperilaku mahasiswadalam temu balik informasidi UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang?”

“ Hambatan apa saja yang dialami oleh para mahasiswa dalam temu balik informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang ?”

1.3    Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat sebagai berikut:

1.    Mengetahui perilaku mahasiswa dalam melakukan temu balik informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang.

2.    Mengetahui hambatan-hambatan yang dialami mahasiswa ketika melakukan temu balik informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang.

3.    Sebagai bahan evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan Perpustakaan UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang, terutama dalam menyediakan sarana temu balik informasisehingga dapat dimanfaatkan oleh pemustaka secara efektif dan efisien.

 

 

2.LANDASAN TEORI

2.1    Perilaku

Perilaku manusia adalah sebagai suatu fungsi dari interaksi antara person atau individu dengan lingkungannya (Thoha, 1999 : 29). Mereka semuanya akan berperilaku berbeda satu sama lain, dan perilakunya ditentukan oleh masing-masing lingkungannya yang memang berbeda. Perilaku, lingkungan, dan individu itu sendiri saling berinteraksi satu sama lain (Bandura : 1977). Ini berarti bahwa perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, disamping itu perilaku juga berpengaruh pada lingkungan, demikian pula lingkungan dapat mempengaruhi individu, demikian sebaliknya.

            Menurut Altkinson (1983 : 351 ) Perilaku merupakan fungsi dari orang dan situasinya. Setiap orang akan bertindak dengan cara yang berbeda dalam situasi yang sama, setiap perilaku seseorang merefleksikan kumpulan sifat unik yang dibawanya ke dalam suasana tertentu.

Perilaku seseorang dipengaruhi oleh sifat-sifat manusia itu sendiri, menurut Thoha (1999 : 31-39 ) sifat manusia adalah sebagai berikut :

a.    Manusia berbeda perilakunya, karena kemampuannya tidak sama

Prinsip dasar kemampuan ini amat penting diketahui untuk memahami mengapa seseorang berbuat dan berperilaku berbeda dengan yang lain. Perbedaan kemampuan ini ada yang beranggapan karena disebabkan sejak lahir manusia ditakdirkan tidak sama kemapuannya, selain itu kecerdasan seseorang itu juga berasal dari dari pembawaan sejak lahir, adapula yang beranggapan karena pendidikan dan pengalaman.

b.    Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda

Seseorang itu berperilaku karena didorong oleh serangkaian kebutuhan. Kebutuhan ini merupakan pernyataan di dalam diri seseorang (internal state) yang menyebabkan seseorang itu berbuat untuk mencapainya sebagai suatu obyek atau hasil.

c.    Orang berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang bertindak

Kebutuhan-kebutuhan manusia dapat dipenuhi lewat perilakunya masing-masing. Seseorang memilih berperilaku sedemikian karena ia yakin dapat mengarahkan untuk mendapatkan sesuatu hasil tertentu.

d.   Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya

Memahami lingkungan adalah suatu proses yang aktif, dimana seseorang mencoba membuat lingkungannya mempunyai arti baginya, menilai apa yang dilihatnya dalam hubungannya dengan pengalaman masal lalu, dan mengevaluasi apa yang dialami itu dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilainya.

e.    Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang (affective)

Perasaan senang dan tidak senang ini akan menjadikan seseorang berbuat yang berbeda dengan orang lain di dalam rangka menanggapi suatu hal.

2.2    Pemustaka

 

Pemakai perpustakaan adalah orang dalam masyarakat yang secara intensif mengunjungi dan memakai layanan dan fasilitas perpustakaan (Sutarno NS, 2008 : 150). Menurut Lasa (2009 : 237) pemustaka adalah orang, sekelompok orang, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas dan atau layanan suatu perpustakaan.

            Dari pendapat beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan, pemustaka merupakan pemakai perpustakaan baik secara individu maupun kelompok yang datang atau berkunjung ke perpustakaan untuk memanfaatkan layanan yang tersedia di perpustakaan.

2.3    Temu Balik Informasi

Temu Balik Informasi atau information retrievalyaitu proses pencarian kembali informasi yang disimpan dalam  perpustakaan, atau pusat informasi dengan menggunakan petunjuk, atau simbol tertentu. Alat penemuan kembali tersebutakan mempermudah pustakawan maupun pengguna dalam menelusuri data, judul, subjek tertentu dan lain-lain (LasaHS, 1990 : 44).

            Temu kembali informasi sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai (Sulistyo-Basuki, 1992). Temu balik informasi merupakan istilah generic yang mengacu pada temu balik dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakaan.

            Pada perpustakaan tradisional / manual, penelusuran / temu balik informasi menggunakan almari katalog. Penelusuran ini dilakukan dengan pendekatan pengarang, judul, subyek yang dicari secara terpisah. Artinya pencarian hanya dilakukan dengan satu pendekatan saja. Sedangkan pada perpustakaan yang telah memanfaatkan teknologi informasi, untuk penelusuran / temu balik informasi dapat melalui pangkalan data. Pada perpustakaan yang terotomasi, penelusuran dapat dilakukan dari berbagai tempat apabila perpustakaan memiliki OPAC yang tersebar melalui jaringan lokal, dengan berbagai pendekatan yang tidak terbatas pada satu pendekatan saja. Misalnya pendekatan pengarang digabung dengan subjek, judul dan penerbit, atau judul ditambah pengarangdan sebagainya. OPAC (Online Public Access Catalogue) adalah sistem temu kembali informasi dengan katalog terpasang yang dapat diakses secara umum, dapat digunakan untuk menelusur pangkalan data katalog, untuk memastikan apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu, untuk mendapatkan informasi tentang lokasi bahan pustaka tersebut.

 

3.METODE PENELITIAN

3.1    Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualititatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam Margono (2005: 36) penelitian kualitatif yaitu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan ini menitikberatkan pada pemahaman dan pemikiran peneliti.

Menurut Sulistyo-Basuki (2010: 78), penelitian kualitatif bertujuan memperoleh gambaran seutuhnya mengenai suatu hal menurut pandangan manusia yang diteliti. Penelitian kualitatif berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat, atau kepercayaan orang yang diteliti, kesemuanya tidak dapat diukur dengan angka.

3.2    Pemilihan Informan Penelitian

Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong, 2002: 90). Informan penelitian adalah sumber utama informasi penelitian yaitu orang-orang yang mengetahui secara mendalam atau pelaku yang terlibat secara langsung dengan masalah yang akan diteliti. Setiap penelitian harus menentukan informan yang akan diteliti. Sebelum menentukan informan tersebut, tujuan dari penelitian juga harus jelas terlebih dahulu, sehingga data yang diperoleh akan lebih valid dan sesuai dengan tujuan penelitian atau permasalahan yang diambil.

Informan dalam penelitian ini sudah ditetapkan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Adapun kriteria tersebut antara lain :

1.    mahasiswa Politeknik Negeri Semarang

2.    pemustaka yang mengunjungi perpustakaan Politeknik Negeri Semarang

 

Tabel. 1: Data Informan

No

Nama / NIM

Jenis Kelamin

Usia

Prodi

1

Ade Luthfi Setiyo

4.41.14.0.01

Laki-laki

19 tahun

Komputer Akuntansi

2

Rizki Faijur Rohman

3.22.14.3.17

Laki-laki

19 tahun

Teknik Konversi Energi

3

Sandy Budi Nugroho

4.11.14.0.16

Laki-laki

19 tahun

Perawatan dan Perbaikan Gedung

 

3.3    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan kegiatan yang sangat penting dalam penelitian, karena akan menentukan keberhasilan tujuan penelitian. Sehingga metode pengumpulan data harus dilakukan secara cermat. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1.    Observasi

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa (Margono, 2009: 158).

2.    Wawancara

Wawancara mencakup cara yang dipergunakan seseorang, untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang itu (Koentjaningrat, 1997: 129).

3.      Dokumentasi

Dokumentasi diartikan mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya (Arikunto, 1998: 236). Dalam penelitian kualitatif teknik ini merupakan alat pengumpulan data yang utama, karena pembuktian jawaban sementara penelitian yang diajukan secara logis dan rasional melalui pendapat, teori atau hukum-hukum yang diterima, baik mendukung maupun menolong jawaban sementara penelitian tersebut.

3.4     Teknik Analisis Data

Analisa data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti disarankan oleh data (Moleong, 2001: 280).

Pada penelitian ini analisis data di lapangan akan dilakukan dengan menggunakan analisis data model Miles and Huberman dalam Sugiyono (2009: 246). Analisis data dilakukan dalam tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.

a.    Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, data penelitian kualitatif bukan hanya sekedar terkait dengan kata-kata, tetapi sesungguhnya yang dimaksud dengan data dalam penelitian kualitatif adalah segala sesuatu yang diperoleh dari yang dilihat, didengar, dan diamati. Untuk itu perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data.

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan begitu data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya apabila diperlukan.

b.    Penyajian Data

Setelah data di reduksi maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data. Penyajian data di sini merupakan data-data yang telah disusun sedemikian rupa sehingga bisa memberikan suatu informasi yang nantinya digunakan untuk menarik suatu kesimpulan. Apabila dalam penelitian kuantitatif penyajian datanya berupa matriks, grafik, jaringan bagan dan sebagainya, maka dalam penelitian kualitatif penyajian datanya dengan cara naratif. Seperti yang dijelaskan oleh Ghonydan Almanshur(2012: 309) “Yang perlu diperhatikan oleh peneliti pemula bahwa bentuk penyajian data yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.”.

Data yang telah didapatkan dari hasil wawancara, sumber tertulis maupun studi pustaka dikelompokkan. Dalam penelitian ini data dari hasil wawancara  dengan informan yaitu perilaku mahasiswa dalam temu balik infornasi di Perpustakaan Politeknik Negeri Semarangdisajikan dalam bentuk naratif dan disertai dengan uraian singkat untuk memperjelas mengenai perilakudari para informan yaitu pemustaka yang memanfaatkansarana temu balik informasidi Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang.

c.    Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah verifikasidan penarikan kesimpulan. Verifikasi dalam penelitian ini adalah melakukan pencocokan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan kepada para petugas. Setelah data diperoleh maka penulis menanyakan untuk memastikan kebenaran data/ jawaban yang diberikan oleh informan dalam menjawab pertanyaan.

Penarikan kesimpulan ini sebagai akhir setelah mengumpulkan, memproses dan menyajikan data sehingga dapat terlihat jelas mengenai hasil inti dari pembahasan masalah.

 

 

4.         ANALISIS PERILAKU PEMUSTAKA (MAHASISWA) DALAM

TEMU BALIK INFORMASI DI UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

 

4.1.       PerilakuPemustaka (Mahasiswa) dalam Temu Balik Informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang

Perilaku yang diperlihatkan dari pemustaka (mahasiswa) di dalam perpustakaan Politeknik Negeri Semarang saat melakukan temu balik informasi adalah sebagai berikut:

a.    Pemustaka langsung menuju OPAC atau ke katalog online,

Hasil wawancara peneliti dengan ALS, dia adalah mahasiswa Politeknik Negeri Semarang yang melakukan temu balik informasi menggunakan OPAC, penulis menanyakan tentang  pendapat informan mengenai mengapa informan menggunakan OPAC sebagai sarana temu kembali informasi di Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang,

 

“Saya lebih senang menggunakan OPAC ketika mencari buku, karena dulu pernah sekali diajari sama petugas, jadinya sampai sekarang saya selalu memakai OPAC, soalnya ketika kita tahu cara menggunakannya, kita akan mudah menemukan buku yang kita inginkan”.

 

Menurut ALS, menggunakan OPAC jauh lebih menyingkat waktu dalam proses temu kembali informasi bahan pustaka, karena dari OPAC tersebut dapat diketahui status bahan pustaka yang dikehendaki apakah tersedia, maupun sedang dipinjam oleh pemustaka lain, selain itu dari OPAC juga dapat diketahui lokasi keberadaan bahan pustaka yang kita inginkan, sehingga tidak akan membingungkan pada saat kita mencarinya di rak koleksi.

Selanjutnya penulis mengajukan pertanyaan, mengenai kendala apa yang dialami ketika melakukan temu balik informasi menggunakan OPAC, berikut jawaban dari informan,

 

“Sering sekali buku tidak ada di rak, padahal di OPAC tertulis buku ada”.

 

Menurut informan, sering terjadi tidak kesesuaian data dengan kenyataan di rak koleksi. Ketika informan melihat di OPAC yang menyatakan buku A berada di rak 23, namun ketika informan mencari pada rak 23 ternyata buku tersebut tidak ada. Hal seperti ini sering terjadi karena buku tersebut kemungkinan masih ada di meja baca perpustakaan karena ada pemustaka lain yang membaca buku tersebut, namun tidak mengembalikannya ke raknya semula, bisa jugabuku tersebut masih berada di rak tandon, belum di tata kembali oleh para petugas, dan kasus yang sering ditemukan adalah koleksi tersebut di selipkan ke rak lain oleh pemustaka lain.  

 

b.    Pemustaka menuju ke meja sirkulasi, kemudianmeminta bantuanpustakawan untuk dicarikan koleksi bahan pustaka yang dibutuhkan.

Dalam hal ini, terlihat pemustaka tidak melakukan temu balik informasi secara tepat, meskipun fasilitas penelusuran telah tersedia.

Hasil wawancara dengan RFR, dia adalah pemustaka yang melakukan temu balik informasi dengan bertanya kepada pustakawan :

“Saya ga tau cara menggunakan OPAC, selain itu takut salah soalnya petunjuk penggunaanya juga kurang jelas, jadinya saya selalu tanya ke petugas, dan petugas yang mencarikan buku yang saya butuhkan”.

 

Menurut informan, dia memilih langkah bertanya ke petugas mengenai koleksi yang dicarinya, dengan alasan karena dia belum tau cara penggunaan OPAC di perpustakaan, petunjuk penggunaan OPAC juga kurang jelas. Dengan bertanya ke petugas, informan memperoleh jawaban yang pasti mengenai keberadaan koleksi, selain itu informan sering dibantu dalam pencarian koleksi di rak oleh petugas.

Selanjutnya penulis mengajukan pertanyaan, mengenai kendala apa yang dialami ketika melakukan temu balik informasi dengan menuju meja sirkulasi dan bertanya kepada petugas, berikut jawaban dari informan,

 

“Kadang-kadang petugas tidak langsung menanggapi, ketika saya minta bantuannya, soalnya bersamaan dengan melayani pemustaka yang lainnya”.

 

Penulis melakukan verifikasi data antara jawaban dari informan denganpetugas. Menurut petugas terkadang kondisi yang tidak memungkinkan karena pada waktu informan meminta bantuan mencarikan buku yang diinginkan sering bersamaan dengan petugas melayani transaksi peminjam maupun pengembalian atau sedang mengerjakan pekerjaan lain, sehingga ketika informan menanyakan mengenai koleksiterkadang petugas meminta untuk menunggu terlebih dahulu, setelah selesai mengerjakan pekerjaanya, petugas baru membantu informan dalam mencari bahan pustaka yang diinginkan.

 

c.    Pemustaka langsung menuju ke rak koleksi.

Dapat diartikan ke dalam dua pengertian, pemustaka sudah hafal karena sering berkunjung ke perpustakaan atau pemustaka tidak mengetahui cara menggunakan OPAC, pemustaka tersebut adalah SBN, hasil wawancaranya adalah sebagai berikut :

“Saya sudah sering berkunjung ke perpustakaan ini, dan saya sudah hafal tempat buku-buku yang saya butuhkan, jadinya saya langsung menuju ke rak, selain itu mempersingkat waktu apalagi OPAC nya sedikit jadinya harus nunggu padahal dah keburu-keburu”.

 

Menurut informan, dia sangat sering berkunjung ke perpustakaan dan sudah hafal lokasi bahan pustaka yang diinginkan sehingga langsung menuju rak koleksi untuk mencarinya, selain itu alasan langsung menuju ke rak koleksi ketika mencari bahan pustaka yang diinginkan adalah jumlah OPAC yang disediakan oleh perpustakaan hanya berjumlah dua buah, sehingga ketika ke dua OPAC tersebut digunakan bersamaan oleh para pemustaka lain, informan sering terburu-buru dan tidak sabar untuk menunggu antrian menggunakan sarana temu balik di OPAC.

Selanjutnya penulis mengajukan pertanyaan, mengenai kendala apa yang dialami ketika melakukan temu balik informasi dengan langsung menuju ke rak koleksi, berikut jawaban dari informan

 

“Saya sering tidak menemukan buku yang saya inginkan di rak”.

 

Menurut informan kasus yang dialaminya hampir sama dengan informan RFR, buku sering tidak ditemukan di rak koleksi.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa perilaku pemustaka dipengaruhi oleh sifat-sifat manusia, seperti yang dijelaskan oleh Thoha ( 1995 : 32-39) bahwa sifat-sifat manusia adalah :

a.    Manusia berbeda perilakunya, karena kemampuannya tidak sama.

Kemampuan pemustaka memang tidak semuanya sama, dapat dilihat pada kenyatan bahwa banyak pemustaka yang tidak melakukan temu balik informasi yang sesuai dengan memanfaatkan OPAC yang tersedia.

Dari hasil wawancara di atas dengan RFR, dapat diketahui pemustaka yang melakukan temu balik informasi dengan bertanya ke petugas, kemampuan mereka kurang dalam hal penggunaan sarana temu balik informasi.

b.    Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda.

Kebutuhan disini dapat diartikan, kebutuhan akan waktu, sehingga pemustaka yang tidak melakukan temu balik informasi menggunakan OPAC dikarenakan, mereka tergesa-gesa oleh suatu kepentingan.

Sifat-sifat manusia seperti ini tercermin dalam perilaku mahasiswa yang melakukan temu balik informasi dengan langsung menuju ke rak koleksi. Dari hasil wawancara dengan SBN, dengan langsung menuju rak, mahasiswa dapat mempersingkat waktu, karena masih ada hal-hal yang ingin dikerjakan selanjutnya.

c.    Orang berpikir untuk masa depan, dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak.

Pemustaka bertindak mengikuti kata hatinya, apakah mereka memutuskan melakukan temu balik informasi menggunakan OPAC, datang langsung ke rak koleksi, atau meminta bantuan pustakawan.

d.   Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman masalalu dan kebutuhannya.

Pemustaka memahami lingkungan perpustakaan, selain itu pernah menggunakan layanan temu balik informasi pada masa lalu sehingga pemustaka tersebut mengetahui bagaimana cara melakukan temu baik informasi yang benar.

Sifat-sifat manusia seperti ini, sesuai dengan perilaku mahasiswa yang melakukan temu balik informasi dengan menggunakan OPAC, menurut hasil wawancara dengan ALS, dia sering berkunjung ke perpustakaan dan menggunakan layanan yang tersedia di perpustakaan, sehingga dengan pengalamannya, dia mampu menggunakannya OPAC, menurutnya dengan menggunakan OPAC kita lebih mudah menemukan buku yang kita inginkan.

e.    Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang.

Pada tahap ini, pemustaka berhak memilih apa yang dia suka dan apa yang tidakmereka suka. Misalnya mereka lebih suka melakukan temu balik informasi dengan langsung menuju rak, bertanya ke pustakawan, atau menggunakan OPAC.

 

 

 

4.2  Hambatan Pemustaka (Mahasiswa) dalam Melakukan Temu Balik

       Informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang

 

a.       Jumlah OPAC (Online Public Access Catalogue) di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang masih kurang, karena hanya berjumlah dua buah, sehingga belum bisa melayani pemustaka dengan maksimal.

b.      Antara kenyataan di rak dengan status yang ada di OPAC sering tidak sesuai. Pada OPAC bahan pustaka A tertulis tersedia namun pada saat dicari di rak bahan pustaka tersebut tidak ada di rak.

c.       Panduan dalam melakukan temu balik informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang belum jelas, sehingga pemustaka masih kebingungan dalam melakukan temu balik informasi.

4.3.  Usaha Mengatasi Hambatan Pemustaka (Mahasiswa) dalam Melakukan Temu Balik Informasi di UPT Perpustakaan Politeknik Negeri Semarang

a.       Jumlah OPAC harus disesuaikan dengan jumlah pengunjung, dengan maksud ketika jumlah pengunjung banyak, pada saat mereka ingin menelusur informasi tidak harus antri. OPAC sebaiknya tidak satu tempat melainkan terpisah-pisah sehingga pemustaka dapat menggunakannya secara maksimal.

b.      SoftwareOPAC dibuat supaya akurat terhadap sumber informasi, sehingga pemustaka tidak mengalami kekecewaan. Sebaiknya database harus selalu di update setiap waktu sehingga tidak ada lagi kekeliruan data.

c.       Penulis membuat serangkaian bagan-bagan yang menggambarkan alir program (flowchart) yang jelas mengenai penggunaan sarana temu kembali bahan pustaka baik itu buku, tugas akhir, maupun jurnal melalui OPAC. Panduan penelusuran tersebut penulis letakkan di dekat komputer penelusuran, kegiatan ini dengan tujuan supaya memudahkan pemustaka ketika melakukan penelusuran.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Atkinson, Rita L. 1991. Pengantar Psikologi. Jakarta : Erlangga.

Bandura, Albert. 1977. Social Learning Theory. New Jersey : Prentice-Hall, Inc.

Ghony, M. Djunaidi dan Almanshur, Fauzan. 2012. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz.

Koentjaraningrat. 1997. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Lasa HS. 1990. Kamus Istilah Perpustakaan. Yogyakarta : Kanisius

Lasa HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher

Margono, S. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Margono, S. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Martin, E. (1999). Managing Information Technology What Managers Need to Know (3rd ed.). New Jersey: Pearson Education International.

Moleong, Lex J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sulistyo-Basuki. 1992. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sulistyo-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Sulistyo-Basuki. 2010. Metode Penelitian. Jakarta: Penaku.

Sutarno NS. 2008. Kamus Perpustakaan dan Informasi. Jakarta : Jala Permata.

Thoha, Miftah. 1999. Perilaku Organisasi : Konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

 

Jl. Prof. H. Soedarto, S.H. Tembalang, Semarang 50275, PO BOX 6199/SMS

Telp. 024-7473417, 024-7499585, 024-7499586 (ext. 119)
Telp/Fax. 024-7472396
email: perpus@polines.ac.id

Copyright 2014 PERILAKU PEMUSTAKA (MAHASISWA) DALAM TEMU BALIK INFORMASI DI UPT PERPUSTAKAAN POLITEKNIK NEGERI SEMARANG. PerpustakaanPolines
Templates Joomla 1.7 by Wordpress themes free